Posted by: Nabilah Adani on: Maret 23, 2009
Kadang, butuh lebih dari sekedar otak untuk mengingat.
Butuh lebih dari sekedar mata untuk melihat.
Butuh lebih dari sekedar telinga untuk mendengar.
Lebih dari itu, kita harus punya..
Hati.
Hati untuk merasakan, hati untuk menyadari, hati untuk..
Berlapang dada.
Hati untuk merasa tersakiti.
Bahkan mungkin lebih dari sekedar hati. Tak sebatas merasakan, menyadari, berlapang dada, atau tersakiti.
Kita juga butuh..
Jiwa.
Jiwa untuk menerima. Jiwa untuk tetap berusaha tegar. Jiwa untuk berkata..
‘Ya, aku kalah. Sejujurjujurnya.’
Kadang keingintahuan membuat otak melupakan adanya hati yang bisa merasakan. Otak hanya ingin tahu, tapi hatilah yang merasakannya. Otak tak peduli akan keberadaan hati yang bisa tersakiti, otak hanya ingin informasi, hanya ingin bukti.
Dan ketika mata telah menyaksikannya, telinga mendengarnya, otak merekamnya;
Hati merasakannya;
Jiwa dengan sulit berusaha menerimanya;
Dan manusia yang malang tersebut? Ia tenggelam dalam gundahnya.
Ia larut ditelan gulana, bersimbah luka dalam bulirbulir air mata.
Duka dan lara setia menjadi sahabatnya. Mendepak sejumput bahagia yang dulu masih bertahta.
Kini siapa yang duduk di atas singgasana?
Kecewa. Luka. Air mata.
Mereka yang menjadi rajanya.
Ia yang kuat dan tegar, mencoba untuk tetap tersenyum.
Tapi senyumnya purapura.
Ia ingin menangis namun untuk apa? Tangisannya penuh dusta.
Lantas apa yang nyata dari dirinya?
Tak ada.
Karena ia, selama ini, hanya bergelut dengan bayang dan mimpinya.
Dan semua itu..
Kini hampa.***
And I’m desperately feeling it.
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 21, 2009
Wew. Ternyata berhasil juga ngimpor blog dari blog lama saya ke blog WordPress baru ini.
Yas yes yoss!!
See youuuuuuuuu~ Blogspot!
Maaf yaa dearest Blogspot, saya mau berpaling sama WordPress dulu nih. Hehehe. Gak tahu sih mana yang lebih bagus, cuman cobacoba aja. Lagi ngetes mana yang lebih pewe, keren, dan bikin eksis. Hohoho.
Anyway, hasil impornya gak sempurna banget yah. Masa susunan paragrafnya jadi ngacongaco gituh. Ah, sebel. Tapi yaudalaya. Nanti juga bisa saya perbaiki kok.
Hmmmmmm~ Welcome to WordPress, Bil!
Ngeblog lagi aaaaaaaaah~~~
***
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 14, 2009
Dia tidak peduli karena dia tidak tahu.
Jum’at, 13 Maret 2009.
Profesionalisme emang harus selalu diutamakan. Dari hal tersederhana sekalipun. That’s why hari ini meskipun seluruh siswasiswi SMAN 5 Bandung dijadwalin libur, hal itu nggak berarti buat kita para APL Crew karenaaaaa ini udah awal bulan Maret. Berarti kita harus bikin mading lagi (ato yang kita sebut gawe) sehingga waktu liburan ini kita mangpaatin buat rame2 ke sekolah, ngerjain mading, dan ngonsep2 lainnya. Yaa nggak 100% gawe juga, sih, terutama buat kita para crew 2011. Hahaha. Gawe sebenernya lebih banyak kita habisin buat ngobrol2, keketawaan, bebecandaan, terutama main2 sampe ngakak gajelas pokoknya hidup gordesss!!. Wkwkwk.
Haduuuh. Maaf ya tetehteteh sekalian. Kita emang belum pernah bisa serius. Hheu.
Nah terus satu kalimat di paling atas di bawah judul itu maksudnya apa dong?
Jadi pas tadi gawe, saya tuh lagi bantuin bikin 3D orang. Nah pas lagi bikin tangan buat 3D orangnya, saya kan kebagian ngelipet2 kertas buat nyampulin kardusnya. Susah sih, soalnya pake karton jadi keras dan dilipetnya susah. Tapi akhirnya setelah saya lipat dengan susah payah begitu dan akhirnya hasilnya udah cukup bagus untuk bisa disebut bagus, temen saya si Upeh berkomentar,
‘Kok bisa rapi, Bil?’ (Dibalikin kardusnya. Bused belakangnya berantakan amat.)
‘Iya dooong. Depannya doang sih, hahaha.’
‘Hahaha. Yaudalaya. Yang diliat orang kan depannya doang.’
‘Yep. Belakangnya mah gak penting lah. Asal depannya rapi. Kan orang juga gak bakal pada tau belakangnya berantakan gini.’
‘Iyalah. Siapa juga yang peduli sama belakangnya. Kan mereka gak tau ini.’
‘Iya dong. Mereka gak peduli karena mereka gak tau. Hahaha.’
Ding dong. Loading dulu cenah.
‘HAH? Mereka gak peduli karena mereka gak tau? Dia.. gak peduli karena dia gak tahu. DIA tidak peduli karena DIA tidak tahu, Peh!’
Wewewewewewewewww. Dia tidak peduli karena dia tahu! What a sentence, maaaaaan!
Sebaris kalimat yang menggambarkan ungkapan hati gue banget.
Thanks to Upeh. Dia menginspirasi gue menulis postingan ini jadinya. Ya, dia gak peduli karena dia gak tahu. Eta pisan.
Dia gak peduli mau saya kangen, saya butuh, saya pengen, saya suka dia.. karena dia gak tahu kalau saya kangen, butuh, pengen, dan suka dia!
Ya, dia emang gak peduli. Itu karena dia gak tahu.
Kenyataan memang seringkali menyakitkan, ya? Tapi itu bukan alasan untuk berduka. Saya bakal nyoba untuk tetep senyum dan terlihat bahagia meski rapuh dan ringkih di dalam. Hahaha *tawa palsu menggema di udara*.
Dia tidak peduli karena dia tidak tahu.
Dia gak tahu karena saya gak mau dia tahu.
Saya gak mau dia tahu karena saya maunya dia tempe. Lho???
Saya gak mau dia tahu karena saya malu.
Saya malu karena saya takut dia tidak peduli.
Mutermuter aja jadinya.
Haaaaaaa. Bener banget. Dia gak akan peduli sama saya, dia gak akan peduli saya mau menggila karena dia, mau kangen sekangen apa juga sama dia, mau butuh sebutuh apa juga sama dia, mau suka sesuka apa juga sama dia…
Karena dia gak tahu! Dia gak tahu itu semua.
Dia gak tahuuuuuu. Dan saya juga gak mungkin ngasih tahuuuuuuu.
Soalnya saya cuma punya tempe (lho????).
Oh yes, definitely yes. Dia tidak peduli karena dia tidak tahu.***
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 9, 2009
Bingung.
Kebingungan = hal yang umum dirasakan oleh remaja labil atau sok labil. Hal yang umum diungkapkan remaja idealis atau sok idealis. Hal yang umum diceritakan oleh remaja penasaran atau sok penasaran. Hal yang.. biasa aja sih.
Karena semua orang pasti pernah, sedang, atau akan mengalami kebingungan. Meski mungkin (dan hampir pasti) porsi kebingungannya berbedabeda.
Eniwei, sebelum mulai ke topik bahasan, saya mau sedikit ngasitau kalau saya ngerasa akhir2 ini jadi mudah terpengaruh ato lebih tepatnya terinsrisapi puiihhh terinspirasi oleh orang lain.
Beneran siah. Efek positifnya sih banyak tapi saya jadi makin ngerasa gak punya jati diri aja. Gak punya kepribadian.
Padahal menurut hasil psikotes, kematangan kepribadian saya tinggi sekali lho. Lho??
Aneh ya? Saya yang aneh ding. Yaudalaya.
Maksudnya, saya ngerasa akhir2 ini dalam beberapa hal jadi banyak kepengaruh orang lain. Simple examplenya, gaya nulis. Bukan gaya nulis dalam artian cara megang pensil ato pose kita waktu nulis, bukaaan! Maksudnya style in writing itu jadi gaya bahasa lah, format nulis lah, dan tetek-benget dunia pertulis-menulisan lainnya. Aneh ya?
Dua kali ngomong aneh ya? Dan jawabannya tetep sama: saya yang aneh ding. Yaudalaya.
Ya emang gak berarti saya memplagiat mereka sih, hanya dengan mudahnya gaya menulis saya jadi kebawabawa. Padahal saya lagi berusaha banget memagari diri dari pengaruh writing style orang lain. Pengen jadi freelancer yang punya ciri khas sendiri, gitu kan. Tapi kenyataannya baru sebatas wacana tuh. Proses pengembangannya masih in progress. Hohoho.
Mari masuk ke topik utama.
Tadi ngomongin apa yah? Sampe lupa. Di-scroll dulu windownya ke atas baru inget. Hahahaaa.
Oh. Bingung.
Nah, lho, saya jadi bingung mau nulis apa?
Oh iya. Inget. Ini tentang confession of confusion. Keren kan judulnya? Gue yang nemu seratus persen originally made by me siah hebat nya.
Terjebak dalam kebingungan. Terkungkung dalam kebimbangan. Terbelit oleh tanda tanya. Terperangkap dalam gelapnya kehidupan. Tersudut dalam pertanyaan. Tersembunyi dari kenyataan. Tergerayangi oleh bayangbayang impian.
I love that paragraph.
Anjir eta iklan sinetron Nikita lagunya alay banget hahahahahahaha.
Ga penting. Kembali ke kandang. Maksudnya, kembali ke topik utama.
Untung ke topik utama. Kalo ke Topik Hidayat, takutnya dia lagi maen badminton tuh. Hehehe.
Gejenya mulai. Autisnya kambuh. Penyakit lamanya muncul. Gak fokus dalam menulis, kan.. idenya tumpang tindih. Inspirasinya campur aduk. Pikirannya bercabangcabang *rambut apa pohon?*. temanya ditinggalin. Keyboardnya terus dipencet. Layar laptopnya diliatin terus. Nyengir sendiri, nyadar yang gue ketik udah lebih dari sekedar ngalor-ngidul. Ngalor ngidul wetan kulon!
Well, I stuck in this confusion, mates.
Jatuh cinta bukan hal luar biasa. Jatuh cinta itu biasa. Jatuh cinta bukan sesuatu yang heboh, wah, menakjubkan, atau apapun yang sifatnya lebay dan luar-biasa-tidak-biasa, melainkan hanya suatu ungkapan hati.
Dan saya sedang merasakannya.
Yep, jatuh cinta bukan hal luar biasa. Tapi efek dari jatuh cinta itulah yang luar biasa.
Ngeliat dia, cecengiran, jejeritan ketahan, nafas ketahan, gak sadar udah limabelas hari nahan nafas dan ngegelesot lemes sendiri. Merhatiin dia, cengircengir sendiri sok pamer kehebatan (soalnya cengircengir unjuk gigi. Nyambung gak sih?). Ada di deket dia, bawaannya pengen loncat sampe langitlangit ato nembus triplek langitlangit sekalian tapi nyadar lagi nginjak lantai bukan trampolin. Komunikasi sama dia, sebenernya degdegan gak karuan, kalo bisa dilihat dan didenger sih jantung tuh udah kayak parade bedug dag-dig-dug nggak karuan berasa kentongan dipukulpukul pertanda maling. Ckckck.
Lantas bingungnya dimana, Bil?
Nah itu dia, saudarasaudara sebangsa dan setanah air! Merdeka!
I feel like being a kite. Gue ditarik-ulur. Ada kalanya dia bikin gue seneeeeeeeeng bangjed dengan merespon gue dengan ceria, bahagia, tulus, dan penuh riang gembira. Ada kalanya juga dia bikin gue bete semrawut kusut cemberut camedut buricat burinong (tuh kan gak nyambung lagi) sampe gue ngerasa, ‘Ah udahlah gak ada harapan ini mah.’ Eh tapi pas gue deketin lagi besokbesoknya gue direspon secara positif lagi. Tuh kaaaaaaaan.
Saya bukan layangan yang bisa diterbangkan dan ditarik sesuka hati. Saya layangan yang benangnya bisa putus jika terus ditarik dan diulur sesenang hati. Ya, semua layangan begitu. Dan kenyataannya, semua orang yang sedang jatuh cinta dan sedang berusaha mendekati targetnya sama nasibnya seperti layangan, dan bukan cuman saya aja:
Mereka berkemungkinan ditarik, atau diulur. Ditarik, semakin dekat, semakin cepat sampai ke tangan si penarik, semakin menyenangkan, semakin menghindari kencangnya angin di angkasa. Semakin cepat sampai ke tangan si penarik, semakin cepat si layangan dan penariknya itu bertemu, semakin cepat mereka bersatu, semakin cepat berakhirnya kisah perjuangan pedekate, semakin senang juga karena semakin cepat bersatu dalam naungan hubungan cinta *apeu laaah*.
Dinginnya udara sudah tak lagi si layangan rasakan. Kerasnya hempasan angin juga tak lagi ia rasakan. Ia sudah cukup melayanglayang di angkasa, dan kini saatnya,
Berada dalam genggaman sang penarik layangan. Dan si layangan dan penariknya pun bersama, mereka hidup bahagia, selamanyaaaaaaaa..
Apa sih, geje gue.
Beda lagi dengan layangan yang diulur-ulur mulu.
Di angkasa si layangan mencoba bertahan. Berharap si penariknya akan menariknya menuju bumi, ia lelah diterpan dinginnya udara, dihempas angin keraskeras, lelah melayanglayang tanpa arah di udara, sementara yang ia inginkan hanya ditarik menuju bumi. Menuju si penarik. Bersatu dengan penariknya.
Kenyataannya si penariknya terus mengulur benangnya, mengulur dan mengulur terus, sampai benangnya lepas dari si penarik dan layangan itu lepas, terbang terbawa angin menuju udara bebas, dan terombang-ambing dalam kehampaan di angkasa. Baca: sakit hati. Kecewa. Ditolak.
Nah kalau yang ditarik-ulur?
Kadang ditarik, kadang diulur. Kadang udah tinggal beberapa ratus meter ke tanah, eeeeh diulur sampe jadi bermilmil dari tanah (wheeeey lebay. Keburu sobek ketiup angin). Kadang udah ngerasa bakal ditarik sampe jatuh ke tangan si penarik, lho kok malah diulurulur lagi?
Daripada diulur mending dilulur. Pengen pake yang ekstrak bengkuang nih gue.
Gejenya mulai. Autisnya kambuh. Penyakit lamanya muncul.
Feels deja vu? Iya tadi kalimatnya udah saya pake kan.
Ya Allah gusti nu Maha Agung, memang sih ini masih terlalu jauh sebelum saya berkata ‘Minta kejelasan!’. Saya masih terlalu awal untuk menyerah. Perasaan saya masih terlalu muda untuk dimatikan. Perjuangan saya masih terlalu cepat untuk dipertanyakan. Nasib saya masih terlalu dini untuk dibeberkan.
Saya hanya perlu terus bersabar dan berjuang. Menanti yang tak pasti, seperti yang saya lakukan sejak dulu dan akan terus begitu, selalu. Menunggu yang nasibnya saya tak tahu, seperti yang saya pertahankan sejak lama dan akan tetap begitu saja, entah sampai kapan lamanya. Saya mau dijadikan layangan yang seperti apa olehnya?
Tarik saya! Saya ingin menuju bumi. Saya ingin berada dalam genggaman sang penarik layangan. Saya enggan terjun bebas di angkasa, terbawa angin, tertiup udara, rusak oleh basahnya rintik hujan, lekang oleh sinar matahari. Tidak. Saya tidak mau.
Saya mau ditarik. Kembali ke bumi. Dan di bumi, saya ingin dia yang memegang saya.
Saya adalah layangannya. Saya ingin ditarik terus olehnya. Sampai kami bertemu di genggaman tangannya!
Semua yang sedang jatuh cinta harus siap dijadikan seperti layangan. Harus mau dan menerima dijadikan seperti layangan.
Dan jangan sampai benangmu putus di tengah jalan.***
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 9, 2009
Sabtu, 07 Maret 2009, 19:55 WIB.
Aku ingin terbang, halus, memeluk angkasa
Mengepakkan sayap, menebar desir halus di udara
Melawan angin, berkejaran dengan matahari yang siap terbenam
Menunggu rumah, menanti pulang
Aku ingin terbang, tinggi, menggapai udara luas
Melemparkan tubuhku tanpa ragu ke alam bebas
Menjatuhkan diriku ke dalam tumpukan mimpi, membuang segala fakta yang telah terlanjur membayang
Menolak diriku untuk membuka mata dan bercermin pada dunia
Aku ingin terbang, melesat, menyaingi cahaya
Secepat kilat mengalahkan titik-titik berbinar
Mengikat diriku di antara sinar-sinar yang seolah memberi petunjuk nyata
Menyuruh benakku untuk tetap terjaga, selama masih ada penerang langkahku disana
Aku ingin terbang, menyeberangi dunia tanpa batas
Dipayungi awan yang bergumul beriak di angkasa, seakan bergerak mengelilingi dunia
Ditemani kepak sayap seribu merpati di udara
Melambungkan diriku ke dalam helaan asa
Terus bermimpi dan menabung harapan tanpa tahu dimana kenyataan berada
Ya, aku sudah terlalu banyak berfantasi dengan semua sandiwara ini
Sampai aku lupa akan adanya dunia nyata
Dan tak mampu lagi membedakan mana fakta dan imaji belaka
Semuanya nampak sama tanpa rambu-rambu pembeda
Menawarkan keindahan, meski berakhir dengan pahit pula akhirnya
Aku ingin terbang, lepas dari jeratan mimpi
Membebaskan diriku yang terperangkap oleh belitan halusinasi
Diiringi harmoni kicau burung-burung malam di tepi senja
Aku ingin terbang, meraih kembali akal sehatku yang mengambang di luar sana
Melayang tanpa arah di udara, menungguku untuk kembali meraihnya
Tak peduli seberapa gelap senja telah menggerayangi bumi
Aku hanya mau diiringi bias-bias warna senja di kejauhan sana
Menemani kepak sayap lemahku menuju suatu tempat di seberang sana
Aku ingin terbang, sebebasbebasnya
Menuju dirinya yang duduk terdiam di daratan sana
Tanpa tahu dirinya sedang menunggu siapa
Aku hanya ingin turun dan sejenak menghela napas, duduk berdampingan dengannya
Meski mungkin tak punya tenaga untuk terbang sejauh dirinya terbawa
Aku hanya ingin terbang menuju dirinya
Halus, tinggi, cepat, tanpa batas, lepas, dan bebas di udara
Bersama seluruh harmoni bumi dan langit yang mendampingiku dengan setia
Sampai dirinya menatapku dari bawah sana dan berkata,
‘Jatuhkan dirimu dari udara. Aku menyanggamu dari bawah seutuhnya.’
*
Dan terakhir, aku ingin terbang sekali lagi saja
Aku ingin terbang untuk terakhir kalinya
Bersama dirinya!***
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 9, 2009
Sabtu, 07 Maret 2009, 21:50 WIB.
Di tengah keremangan senja yang menciptakan binarbinar ungu malam hari
Sang bocah berjalan dalam langkah-langkah terseok menuju sebuah peraduan
Ia terduduk disana, termangu disana
Bola matanya kian redup seakan hatinya tak bisa lagi bercahaya
Ya, ia sudah lelah bersinar. Bersinar dan tak diperhatikan.
Tubuhnya mulai kaku, bibirnya menggigil biru, lidahnya mendesah kelu
‘Aku ingin pulang. Pulang ke rumahku.’
Sejauh langkahnya telah membawa tubuh layunya pergi menyusuri hari
Tak ia temukan sedikitpun tandatanda rumah tempat ia seharusnya bernaung
Lantas kemana si bocah yang rapuh harus berlindung?
Ia telah temukan banyak tempat untuk singgah dan melepas lelah
Ia memang telah rasakan banyak tempat yang menghadirkan kehangatan
Namun ia butuh tempat pulang yang sesungguhnya
Tak bisa terus berjalan dan menumpang di semua perhentian
Dan batinnya yang kian terusik semakin merajalela, menusuk asanya
Memaksa harapannya untuk pulang segera
Sang bocah yang kelelahan, merangkak di tepi jalan
Ia masih ingin berdiri dan melangkah, terus mencari tanpa tahu apa yang harus dicari
Ia hanya tahu; ia ingin, butuh, dan harus pulang
Namun rumahnya telah pergi. Rumahnya telah tiada.
Ia bingung kemana harus melangkah dan mencari dunianya?
Ia tak lagi merasakan kehangatan dalam denyut nadinya
Ia tak bisa merasakan hasrat berkawan dalam detak jantungnya
Ia lupa akan rasanya arus deras kebersamaan dalam aliran darahnya
Ia merasa hampa, kecewa, dan entah bagaimana harus mencarinya
Sang bocah yang malang. Ia hanya ingin pulang.
Ia terduduk di tepi jalan
Matanya menerawang. Hatinya terkungkung dalam kesedihan.
Benaknya terkurung dalam kebingungan
Air matanya enggan menetes. Malu pada kenyataan.
Ia menjerit dalam hati, tak mau keluhkesahnya didengar dunia
Ia bercerita kepada bayangannya, yang setia mengekornya selama masih ada kilatan-kilatan harapan
Nafasnya tersengal. Dadanya sesak. Hatinya sakit bercampur kerinduan akan rumah.
Ya, ia terlalu banyak bergumul dengan mimpi dan imajinasi
Sampai ia lupa, dunia nyata yang berjaya disini
Impian dan harapannya harus didepak dari benaknya
Tersentak, ia tersadar akan lamunan panjangnya
Ia masih ingin bermimpi; setidaknya bermimpi tak sesakit hidup nyata disini
Tapi apa daya, ia sudah terbangun oleh hentakan fakta
Begitu keras, menyakitkan, mendobrak asa dan harapannya. Melukai mimpi-mimpi indahnya.
Kenyataannya, ia tersesat disana, di ujung jalan mimpi-mimpinya
Ia tak bisa lagi menemukan rumahnya
Terduduk kedinginan, termenung kosong, sampai tertidur lelap ia di seberang sana
Tanpa kawan. Tanpa rumah. Tanpa sejumput pun kehangatan yang seharusnya menyelimuti tidurnya.
Ia tertidur hanya beralaskan dinginnya kesendirian
Ia terlelap bersenderkan sebongkah harapan yang semakin retak
Ia sudah bisa nyenyak meski hanya berselimutkan dinginnya kenyataan
Ya, mungkin ia terlalu lelah dalam pencariannya
Terbayang-bayangi rumah yang telah menghilang dari kehidupannya
Sang bocah yang sungguh-sungguh malang
Ia galau dan mulai bimbang
Sesungguhnya yang ia inginkan hanya pulang.***
Posted by: Nabilah Adani on: Maret 7, 2009
Kamis, 05 Maret 2009, 20:00 WIB.
Semuanya aja bikin pusing! Marah. CAPEK. BOSEN. A-R-G-H.
*
Aku ingin berteriak kepada dunia
Menjerit sampai tenggorokanku tercekik dan batinku terseok
Menangis sampai air mataku habis dan suaraku lenyap tak berbekas
Meloncat ke dasar mimpiku sampai tubuhku retak, jatuh hancur dan tergeletak begitu saja
Mencabik jiwaku sendiri, mengoyak hatiku sendiri
Melukai jiwa dan ragaku sendiri
Sampai kurasakan benarbenar,Aku bisa mati. Berarti aku pernah hidup.
Kamis, 05 Maret 2009, 20:10 WIB.
*
Puisinya gak begitu ‘wow’, sih. Tapi yaudalayaa. Samarsamar dikit tapi masih bisa disebut lumayan lah ya.
*
Semuanya numpuk. Amarah. Kekecewaan. Kekesalan. Dendam. Pikiran tanpa akhir. Loneliness.
HOME-HELL-HOME (?). Mungkin?
Saya lelah. Saya kalah. Saya jatuh di pertempuran ketika melawan kenyataan. Saya terlalu banyak bergumul dengan imajinasi sehingga saya tak sadar bahwa saya seharusnya belajar menghadapi fakta. Saya terlalu sering merasa ‘sendirian’; terlalu sering menikmati rasanya sendirian sampai saya lupa bagaimana rasanya sebuah kebersamaan, setidaknya di dalam rumah. Saya mungkin merindukan kehangatan dari sebuah poin kecil dalam kebersamaan dalam sebuah tempat berteduh, tapi yang saya tahu saya tidak menemukannya disini sekarang.
Kehangatan itu tidak lagi berada disini. Ia telah jauh pergi. Entah mengapa, mungkin ia bosan berada disini. Dan setelah ia pergi.. saya kini tengah menikmati rasanya hidup ’sendiri’.
Dan sendirian itu ternyata menyenangkan.
Pada kenyataannya, sendiri itu indah juga.
Sampai saya tidak peduli apakah saya masih sungguhsungguh tergabung disini. Saya tidak peduli. Yang saya pedulikan hanyalah mereka cukup memenuhi kebutuhan saya dan mau cukup mengerti untuk membiarkan saya tetap stay calm sendiri.
Ya, mereka cukup mengerti bahwa saya ingin sendiri disini.
Saya butuh mereka, tapi bukan sebagai kawan. Saya butuh mereka sebagai pelengkap. Pemberi kebutuhan. Penyedia kebutuhan. Selebihnya, kenyataannya mereka bukan lagi siapa-siapa. Mereka mungkin telah tergantikan. Mereka ternyata bukan satusatunya pelengkap kehidupan.
Rasanya saya benarbenar hidup sendiri disini. Padahal mereka selalu ada, bersama saya, hanya saja saya selalu memilih untuk diam sendiri, berpikir sendiri, semuanya sendiri. Sendirian saja. Tak mau ditemani mereka.
Saya sudah cukup senang dengan mereka mengerti bahwa saya selalu ingin sendiri disini.
Ya, biarkan saja saya sendiri.
Dan kali ini saya ingin menangis sendiri.***
and they recently said . . :D