Posted by: Nabilah Adani on: Maret 23, 2009
Kadang, butuh lebih dari sekedar otak untuk mengingat.
Butuh lebih dari sekedar mata untuk melihat.
Butuh lebih dari sekedar telinga untuk mendengar.
Lebih dari itu, kita harus punya..
Hati.
Hati untuk merasakan, hati untuk menyadari, hati untuk..
Berlapang dada.
Hati untuk merasa tersakiti.
Bahkan mungkin lebih dari sekedar hati. Tak sebatas merasakan, menyadari, berlapang dada, atau tersakiti.
Kita juga butuh..
Jiwa.
Jiwa untuk menerima. Jiwa untuk tetap berusaha tegar. Jiwa untuk berkata..
‘Ya, aku kalah. Sejujurjujurnya.’
Kadang keingintahuan membuat otak melupakan adanya hati yang bisa merasakan. Otak hanya ingin tahu, tapi hatilah yang merasakannya. Otak tak peduli akan keberadaan hati yang bisa tersakiti, otak hanya ingin informasi, hanya ingin bukti.
Dan ketika mata telah menyaksikannya, telinga mendengarnya, otak merekamnya;
Hati merasakannya;
Jiwa dengan sulit berusaha menerimanya;
Dan manusia yang malang tersebut? Ia tenggelam dalam gundahnya.
Ia larut ditelan gulana, bersimbah luka dalam bulirbulir air mata.
Duka dan lara setia menjadi sahabatnya. Mendepak sejumput bahagia yang dulu masih bertahta.
Kini siapa yang duduk di atas singgasana?
Kecewa. Luka. Air mata.
Mereka yang menjadi rajanya.
Ia yang kuat dan tegar, mencoba untuk tetap tersenyum.
Tapi senyumnya purapura.
Ia ingin menangis namun untuk apa? Tangisannya penuh dusta.
Lantas apa yang nyata dari dirinya?
Tak ada.
Karena ia, selama ini, hanya bergelut dengan bayang dan mimpinya.
Dan semua itu..
Kini hampa.***
And I’m desperately feeling it.
and they recently said . . :D